Tahun ajaran baru 2025 menjadi momen bersejarah bagi delapan siswa penerima beasiswa Panti Asuhan Al Munjin yang memulai perjalanan akademik di MA Al Irtiqo Malang. Di antara mereka, ada sosok Tara—seorang gadis 15 tahun dari Pulau Pagerungan yang membawa tekad besar untuk mengubah nasibnya.
Perjalanan Panjang Menuju Malang
Tara tiba di Pelabuhan Tanjung Perak setelah menempuh perjalanan laut selama 12 jam dari pulau terpencilnya. Ini adalah pertama kalinya ia meninggalkan kampung halaman. Di tas kainnya yang sederhana, hanya ada beberapa potong baju, Al-Quran kecil peninggalan ayah, dan buku resep masakan tulisan tangan ibunya. “Aku janji sama Ibu, aku harus jadi dokter gigi. Nggak boleh menyerah,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ayah Tara meninggal saat ia berusia 1,5 tahun akibat infeksi gigi yang tak tertangani di pulau mereka yang minim fasilitas kesehatan. Tragedi itu menjadi alasan kuatnya bercita-cita menjadi dokter gigi. “Aku nggak mau ada lagi anak yang kehilangan ayah seperti aku,” tambahnya.
Adaptasi dan Dukungan dari Panti Asuhan Al Munjin
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Tara terbiasa hidup mandiri. Di asrama Panti Al Munjin, ia mulai beradaptasi dengan rutinitas baru: sekolah pagi, mengaji sore, dan les tambahan. Meski awalnya kaget dengan budaya kota yang serba cepat, ia perlahan menemukan teman-teman seperjuangan—tujuh penerima beasiswa lainnya yang juga berasal dari keluarga kurang mampu.
Kepala Panti Asuhan Al Munjin, Ustadz Farid, menjelaskan bahwa program beasiswa ini tidak hanya mencakup biaya sekolah, tetapi juga akomodasi, bimbingan belajar, dan pendampingan mental. “Kami ingin mereka fokus belajar tanpa terbebani biaya. Mimpi mereka adalah tanggung jawab kami bersama,” katanya.
Hobi Memasak sebagai Penghibur Rindu
Di sela kesibukannya, Tara kerap menghabiskan waktu di dapur asrama untuk memasak. “Masak itu seperti obat rindu buat Ibu,” ucapnya sambil menyiapkan sambal matah khas Pulau Pagerungan—resep yang ia kuasai sejak kecil. Bahkan, ia berencana mengikuti ekstrakurikuler tata boga di sekolah untuk mengasah bakatnya.
Guru MA Al Irtiqo, Bu Rina, menceritakan ketekunan Tara: “Dia selalu bawa buku catatan kecil. Setiap pelajaran biologi, khususnya bab sistem pencernaan, matanya langsung bersinar.”
Cita-Cita yang Diperjuangkan
Tara sadar, jalan menuju fakultas kedokteran gigi tidak mudah. Namun, ia yakin dengan doa dan kerja keras, semua mungkin. “Aku mau buka klinik gigi gratis di Pagerungan suatu hari nanti,” impiknya.
Kisah Tara dan tujuh temannya adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi. Melalui program beasiswa Panti Asuhan Al Munjin, mereka mendapat kesempatan untuk menulis masa depan yang lebih cerah—satu halaman demi halaman, di kota Malang yang kini menjadi rumah baru mereka.
Epilog:
Delapan penerima beasiswa 2025 ini diharapkan tidak hanya menjadi inspirasi bagi siswa lain, tetapi juga kelak kembali membangun daerah asal mereka. Bagi yang ingin mendukung program ini, Panti Asuhan Al Munjin membuka donasi melalui almunjin.or.id
“Dari pulau terpencil ke kota pendidikan, mereka membawa asa yang tak terdampar.”



